Kamis, 04 Mei 2017

STUDY LITERATURE


Study Literature
                                                                    Img : exammagic.com
           


Study literature bagi para praktisi akademis atau kalangan mahasiswa adalah suatu hal yang biasa didengar dan bahkan sering dilakukan. Hal ini karena setiap kegiatan penelitian atau kegiatan penyusunan tugas-tugas kuliah harian dan melakukan tugas-tugas presentasi sering melakukan study literature.

Study literature juga merupakan suatu hal atau salah satu teknik yang harus dilakukan dalam suatu penelitian ilmiah. Suatu penelitian ilmiah yang hendak dilakukan, tentu saja seorang peneliti harus memiliki wawasan yang luas terkait objek yang akan diteliti, karena jika tidak dapat dipastikan penelitian tersebut menjadi tanpa arah dan berakhir dengan predikat gagal.

Berbicara tentang penelitian, bahwa setiap penelitian mempunyai tujuan dan kegunaan tertentu dan secara umum tujuan penelitian ada tiga macam yakni penelitian yang bersifat penemuan, pembuktian, dan pengembangan.

Penemuan karena data yang diperoleh dari hasil penelitian itu adalah data yang benar-benar baru dan sebelumnya belum pernah ada. Pembuktian berarti data yang diperoleh itu digunakan untuk membuktikan adanya keragu-raguan terhadap informasi atau pengetahuan tertentu. Pengembangan bahwa hasil dari penelitian merupakan pendalaman dan perluasan pengetahuan yang telah ada.

Penelitian ilmiah apapun jenisnya adalah merupakan kegiatan yang dilakukan secara sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis tentang fenomena-fenomena alami, dengan di pandu oleh teori dan hipotesis. Topik penelitian harus di kaitkan dengan pengetahuan yang relevan, seperti hasil penelitian,  jurnal, disertasi, dan buku sebagai bahan referensi yang memiliki topik yang sama. Untuk itulah perlu suatu kegiatan study literature.

Mengingat betapa pentingnya kegiatan study literature, artikel kali ini akan membahas tentang study literature secara rinci yaitu mengenai pengertian study literature, macam-macam sumber literatur, manfaat study literature, dan teknik penyusunan study literature. Selanjutnya dengan pembahasan tentang study literature dalam artikel ini, diharapkan para pembaca khususnya mahasiswa dapat memahami pengertian, manfaat, dan cara penulisan study literature dalam penelitian baik secara teori maupun praktek.

A.  PENGERTIAN STUDY LITERATURE

Study literature atau dengan kata lain yaitu studi pustaka atau kajian pustaka merupakan penelusuran literatur yang bersumber dari buku, media, pakar ataupun dari hasil penelitian orang lain yang bertujuan untuk menyusun dasar teori yang kita gunakan dalam melakukan penelitian.

Berbicara tentang teori, maka teori dalam penelitian dapat dipakai untuk berbagai hal yaitu sebagai berikut 

1. Teori  sebagai suatu orientasi :  
Teori sebagai suatu orientasi artinya teori dapat membatasi jumlah fakta yang perlu 
dipelajari. Setiap masalah dapat dikaji dalam berbagai cara yang berbeda dan teori 
mempedomani cara-cara mana yang dapat memberikan hasil terbaik.

2. Teori sebagai suatu sistem.
Teori sebagai suatu sistem artinya teori dapat memberikan system apa yang hendak 
dipakai peneliti untuk mengartikan data agar dapat dikelompokkan dalam cara yang 
paling bermakna.

3. Teori sebagai rangkuman
Teori sebagai rangkuman, artinya teori juga dapat meringkas apa yang perlu 
diketahui mengenai objek yang dikaji. Teori juga dapat dipakai untuk memprediksi 
fakta-fakta lebih lanjut yang harus dicari.

Seorang peneliti sebelum melakukan dan menyusun hasil penelitiannya, maka peneliti tentunya harus melakukan study literature. Peneliti akan mencari dan kemudian membahas terbitan-terbitan atau publikasi yang berhubungan dengan variabel-variabel penelitiannya serta kaitan antar variabel yang menjadi model penelitiannya.

Seorang peneliti dalam melihat dan mengkaji kembali berbagai literatur (literature review) dari setiap terbitan/buku/publikasi yang dianggap relevan dibahas secara kritis, dapat meliputi sebagai berikut:
a)   Siapa yang pernah meneliti topik atau masalah tersebut?
b)   Di mana dan kapan penelitian itu dilakukan?
c)   Apa unit dari bidang studinya?
d)   Bagaimana analisisnya?
e)   Bagaimana kesimpulannya?
f)    Apa kritikan terhadap studi itu?
g)  Apa saja dimensi-dimensi dan indikator-indikator dari variabel-variabel penelitian yang kiranya dapat dipakai untuk ditindak lanjuti?


B.  MACAM - MACAM SUMBER LITERATUR

Study literature dalam penelitian dapat diperoleh dari berbagai sumber diantaranya adalah : abstrak hasil penelitian, indeks,  review,  jurnal, dan buku referensi.

1.    Abstrak hasil penelitian

Abstrak merupakan sumber referensi yang berharga, karena dalam abstrak  peneliti menuliskan intisari dari penelitian yang meliputi: metode, perumusan masalah, hasil penelitian, dan kesimpulan. Sehingga dengan membaca abstrak hasil penelitian kita akan mendapatkan gambaran secara keseluruhan tentang penelitian yang sudah dilakukan. Selain itu dengan membaca abstrak kita dapat mempelajari metode yang digunakan oleh peneliti tersebut, sehingga memberikan inspirasi kepada kita untuk menggunakan metode sejenis dalam konteks dan latar yang berbeda.

2.    Indeks.

Indeks menyediakan judul-judul buku yang disusun berdasarkan deskripsi utama masing-masing buku, tetapi tidak menyediakan abstraknya. Sebagai contoh Indeks Internet akan ditampilkan sebagai berikut: bagian heading (kepala berita) Internet, proxy server. Tulisan pada heading memberikan informasi pada kita tentang buku mengenai Internet dan hal utama yang dibahas ialah mengenai proxy server.

3.    Review

Review berisi tulisan-tulisan yang mensintesa karya-karya atau buku yang pernah ditulis dalam suatu periode waktu tertentu. Tulisan disusun berdasarkan topik dan isi. Dalam review biasanya penulisnya memberikan perbandingan dan bahkan juga kritik terhadap buku atau karya yang direview oleh yang bersangkutan. Review juga memberikan kesimpulan alternatif kepada pihak pembaca yang tujuannya ialah agar pembaca dapat memperoleh pandangan yang berbeda dari buku yang dibacanya.

4.    Jurnal

Jurnal berisi tulisan-tulisan dalam satu bidang disiplin ilmu yang sama, misalnya ilmu manajemen dalam ilmu ekonomi atau teknik informatika dalam ilmu komputer. Kegunaan utama jurnal ialah dapat digunakan sebagai sumber data sekunder karena pada umumnya tulisan-tulisan di jurnal merupakan hasil penelitian. Selain itu tulisan di jurnal dapat dipakai sebagai bahan kutipan untuk referensi dalam penelitian kita sebagaimana buku-buku referensi.

5.    Buku  Referensi

Buku referensi berisi tulisan umum dalam disiplin ilmu tertentu. Sebaiknya kita memilih buku yang bersifat referensi bukan buku yang bersifat sebagai penuntun dalam menggunakan atau membuat sesuatu. Buku referensi yang baik berisi tulisan yang mendalam mengenai topik tertentu dan disertai dengan teori-teori penunjangnya, sehingga kita akan dapat mengetahui perkembangan teori dalam ilmu yang dibahas dalam buku tersebut.

C.  MANFAAT STUDY LITERATUR

Manfaat atau tujuan utama dalam melakukan studi literatur ialah : 1) menemukan variabel-variabel yang akan diteliti, 2) membedakan hal-hal yang sudah dilakukan dan menentukan hal-hal yang perlu dilakukan, 3) melakukan sintesa dan memperoleh perspektif baru, 4) menentukan makna dan hubungan antar variabel. Berikut adalah penjelasannya.

1. Menemukan variabel-variabel yang akan diteliti.

Pada praktiknya, peneliti sering mengalami kesulitan untuk merumuskan masalah 
yang layak untuk diteliti. Masalah yang diteliti pada hakekatnya merupakan variabel-
variabel yang akan diteliti. Dengan melakukan study literature, maka peneliti akan 
mendapat kemudahan dalam menemukan variabel-variabel yang akan diteliti. Selain 
itu dengan melakukan study literature, maka akan dapat membantu peneliti dalam 
mendefinisikan variabel baik secara konseptual maupun operasional, serta 
membantu mengidentifikasi adanya hubungan antar variabel tersebut, baik secara 
konseptual atupun operasional.

2. Membedakan hal-hal yang sudah dilakukan dan menentukan hal-hal yang 
perlu dilakukan.

Manfaat atau tujuan kedua dari melakukan study literature adalah membedakan hal-
hal yang sudah dilakukan dan menentukan hal-hal yang perlu dilakukan. Hal ini 
dapat dimaknai bahwa study literature dapat menghindarkan kita agar tidak terjadi 
duplikasi penelitian atau karya di masa lalu yang sudah pernah dilakukan oleh orang 
lain. Namun demikian, penelitian masa lalu dapat menjadi bahan atau setidak-
tidaknya memberikan gagasan atau inspirasi terhadap penelitian yang akan 
dilakukan saat ini, khususnya sebagai arahan kepada kita dalam melakukan 
penelitian saat ini.

3. Melakukan sintesa dan memperoleh perspektif baru

Tujuan ketiga dari melakukan study literature adalah untuk melakukan sintesa dan
memperoleh perspektif baru. Hal ini dapat diartikan jika seorang peneliti dengan 
cermat dapat melakukan sintesa hasil penelitian sejenis di masa lalu, maka ada 
kemungkinan peneliti tersebut menemukan sesuatu yang penting mengenai gejala 
yang sedang dipertanyakan dan cara-cara bagaimana mengaplikasikan kedalam 
konteks penelitian saat ini. Pada umumnya para peneliti lebih memilih hal-hal yang 
bersifat spesifik daripada hal-hal yang bersifat umum.

4. Menentukan makna dan hubungan antar variabel

Tujuan keempat dari melakukan study literature adalah untuk menentukan makna 
dan hubungan antar variabel, karena semua variabel yang diteliti harus diberi nama, 
didefinisikan dan disatukan dengan masalah yang sudah dirumuskan beserta 
hipotesanya. Jika seseorang melakukan proses mendefinisikan variabel dengan 
tanpa melakukan study literature terlebih dahulu, maka kemungkinan yang akan 
diperoleh kesalahan dalam pendefinisian variabel. Sebaliknya jika peneliti
melakukan study literature, maka peneliti mendapatkan tuntunan secara teori cara-
cara mendefinisikan suatu variabel, karena kemungkinan variabel secara konseptual 
sudah didefinisikan oleh peneliti sebelumnya.

Selanjutnya menurut Suharsimi Arikunto, ada beberapa manfaat study literature secara konstruktif antara lain :
1.  Peneliti akan mengetahui dengan pasti apakah permasalahan yang dipilih betul-betul 
     belum pernah diteliti oleh orang yang terdahulu.
2.  Peneliti dapat mengetahi masalah-masalah lain yang mungkin lebih menarik 
     dibandingkan dengan penelitian terdahulu.
3.  Peneliti  dapat lancar dalam menyelesaikan pekerjaannya, karena peneliti dapat 
     mengacu pada pengetahuan, dalil, konsep, atau ketentuan yang sudah ada.
4.  Sehubungan dengan manfaat nomor 3, maka kedudukan peneliti sebagai ilmuan 
     menjadi mantap, kokoh, dan kuat, karena dalam kegiatannya tersebut menggunakan 
     aturan-aturan akademik yang berlaku.

Secara singkat maka manfaat atau tujuan dari melakukan study literature adalah :
1. Menggali teori-teori dasar, konsep, pemikiran dan hasil-hasil penelitian yang dikemukakan para ahli terdahulu (mendalami landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan).
2.  Membantu untuk menentukan arah perkembangan tema penelitian terkini sesuai bidang keahlian.
3. Menyediakan informasi dan wawasan ilmiah lebih luas tentang tema dan topik yang dipilih.
4.  Dominan dimanfaatkan untuk melengkapi data sekunder ( membantu pemilihan prosedur penelitian).
5. Mengarahkan penyusunan buah pikiran yang lebih sistematis, terarah, logis, saling terkait, kritis dan  ekonomis dan tidak menyimpang dari kaidah ilmiah.
6.  Mencegah duplikasi karya penelitian

D.  TEKNIK PENYUSUNAN STUDY LITERATURE

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa melakukan study literature adalah sangat penting baik dalam menulis proposal ataupun laporan hasil kerja dalam bentuk tugas akhir, skripsi, thesis ataupun dalam kegiatan kerja di perusahaan dan masyarakat. Study literature sangat diperlukan untuk memberikan dasar/landasan yang kuat mengenai alasan pemilihan tema tertentu, mengapa peneliti menerapkan metode tertentu dan bukan metode yang lainnya atau memberi dasar/landasan teori yang yang dipakai dalam penelitian tersebut.

Mengingat pentingnya melakukan study literature, maka diperlukan suatu teknik atau langkah-langkah dalam penyusunan study literature  yaitu sebagai berikut :


 Langkah pertama dalam melakukan study literature adalah mencari sumber-sumber 
 untuk bahan studi pustaka atau literature review. Sumber-sumber untuk dijadikan 
 sebagai daftar pustaka yang paling baik adalah buku, artikel jurnal yang sudah di 
 peer-review, artikel proceedings yang telah di-peer review, dan technical report dari 
 institusi pendidikan atau organisasi lainnya yang berhak untuk mengeluarkan.

 Sebelumnya peneliti harus memeriksa secara jelas apakah sumber tersebut sesuai 
 dengan studi pustaka atau literature review yang akan dibuat, misalnya dengan 
 melihat daftar isi, abstrak, heading, dan sub-headings atau ‘DOCUMENT 
 STATEMENT’ (kalimat terpenting di dalam suatu tulisan yang biasanya terdapat di 
 bagian akhir pendahuluan dari suatu tulisan).

2. Mengevaluasi isi yang dimuat di dalam sumber-sumber tersebut.

Langkah kedua dalam melakukan study literature adalah mengevaluasi isi yang 
dimuat di dalam sumber-sumber tersebut. Proses evaluasi tersebut harus seobjektif 
mungkin, baik evaluasi yang bersifat pendukung maupun yang bersifat melemahkan 
terhadap teori dalam penelitian yang akan kita lakukan.

Beberapa tip yang dapat digunakan untuk mempercepat proses evaluasi suatu 
sumber antara lain dengan melakukan “SKIMMING”, yaitu yang arti literalnya adalah 
meluncur; merefer yaitu membaca cepat sambil menangkap intisari bacaan sumber; 
intisari yang ditangkap mungkin tidak sepenuhnya benar, tetapi dapat memberikan 
arahan bagi peneliti, apabila kita memerlukan informasi terkait di kemudian hari. 
Selain melakukan “SKIMMING” juga melakukan “PARAGRAPH STATEMENT” yaitu 
mencari kalimat yang terpenting dalam suatu paragraf yang biasanya muncul di 
bagian awal dari suatu paragraf.

Evaluasi juga dilakukan untuk melihat apakah penulis sumber tersebut adalah benar-
benar orang yang mempunyai otoritas di dalam permasalahan yang diangkat. Hal ini 
dapat dihindari kalau hanya memakai ke-empat sumber yaitu buku, jurnal, 
proceedings dan technical report dan dapat menghindari hasil searching yang tidak 
valid dari Google atau sistem searching lainnya. Selain kevalidan sumber, perlu juga 
diteliti apakah metode, data, dan penganalisaan yang digunakan oleh penulis sudah 
tepat atau belum.

Disamping itu perlu juga dianalisa apakah ada informasi yang sengaja disampaikan 
sebagian, tidak sebenarnya atau dihilangkan. Kemutakhiran sumber perlu 
diperhatikan, karena untuk informasi tertentu kadang perkembangannya begitu 
cepat, sehingga harus selalu berusaha mencari yang paling up-to-date.

3. Membuat summary terhadap isi sumber-sumber tersebut

Langkah ketiga dalam melakukan study literature adalah membuat summary 
terhadap isi sumber-sumber tersebut. Summary atau rangkuman digunakan sebagai 
pengingat sumber yang pernah dibaca, sehingga pada saat menulis studi pustaka 
atau literature review  tidak perlu membaca ulang sumber secara keseluruhan.

Adapun hal-hal yang perlu untuk dicatat dalam summary atau rangkuman tersebut 
antara lain: Penulis, Tahun, Judul dan Sumber (Buku, Jurnal, Proceedings atau 
Technical Report) dari tulisan yang dibaca, Tujuan Penelitian, Metode Penelitian, 
Hasil Penelitian, Kesimpulan dan Saran, serta hasil evaluasi.

4. Menulis studi pustaka atau literature review.

Langkah keempat dalam melakukan study literature adalah menulis studi pustaka 
atau literature review. Rangkuman yang dibuat dalam tahapan sebelumnya 
dipergunakan sepenuhnya dalam menulis studi pustaka atau literature review. Hal-
hal yang mungkin dimasukkan antara lain : persamaan dan perbedaan antara 
pengarang dan penelitian mereka, penelitian mana yang saling mendukung dan 
yang mana saling bertentangan, pertanyaan yang belum terjawab dan lain-lain. 

Untuk itu peneliti perlu menata rangkuman dan mengelompokkannya berdasarkan 
beberapa kriteria yang diperlukan, seperti berdasarkan pada tema penelitian, jenis 
penelitian, pendukung atau penentang,  dan lain-lain.

Satu hal yang dapat dijadikan tips dalam menulis studi pustaka atau literature review 
adalah “PARAPHRASING”, yaitu melakukan pengungkapan ulang terhadap 
pernyataan orang lain dengan cara berbeda dengan aslinya. Paraphrasing ini 
menghindarkan kita untuk mengutip secara langsung dan menghindarkan kita untuk 
menggunakan tanda petik terhadap pernyataan langsung tersebut.

Selanjutnya tehnik penulisan study literature juga harus menggunakan kaidah-aidah penulisan yang telah berlaku umum dan ilmiah, seperti sesuai dengan tehnik penulisan sebagai mana ditulis dalam Buku Bimbingan Penulisan Skripsi atau Tesis yang telah ditentukan oleh Universitas atau dalam ejaan-ejaan yang telah disempurnakan dan berlaku saat penelitian akan dilakukan.

Demikianlah artikel yang membahas secara rinci mengenai study literature dan penulis berharap dengan pembahasan materi tentang study literature dalam artikel ini, diharapkan para pembaca khususnya mahasiswa dapat memahami pengertian study literature, manfaat study literature, sumber-sumber literatur, dan cara penulisan study literature dalam penelitian baik secara teori maupun praktek. Selanjutnya jika study literature dilakukan dengan tepat dan sebaik-baiknya, maka tugas-tugas kuliah harian atau tugas akhir penelitian dapat berhasil dengan baik pula.







DAFTAR PUSTAKA

Umar, Husein. 2008. Riset Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Mercu Buana, Universitas.2013.Buku Bimbingan Penulisan Tesis. Program Pasca Sarjana. Magister Manajemen. Edisi 6. Jakarta

Website:
Http://metodepenelitian.wordpress,com/literature-review-2/2013.
Http://yudiagusta.wordpress.com/2008/04/08/tips-pembuatan-literature-review/
Http://tehnik penulisan studi literatur.komunitasmahasiswa.com/2013



Jumat, 28 April 2017

PENGARUH KEPUASAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN


Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan
KEPUASAN KERJA
                                                                      img : cleverism.com

Apakah pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan? Benarkah kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, ada baiknya kita menengok sekilas tentang siklus kehidupan organisasi dan sumber daya manusia perusahaan.

Siklus kehidupan organisasi (Organisational Life Cycle),  dimulai dari tahap kelahiran organisasi (organizational birth), pertumbuhan organisasi (organizational growth), penurunan organisasi (organizational decline), dan kematian organisasi (organizational death). Selanjutnya, dalam setiap tahap siklus kehidupan organisasi tersebut faktor Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan faktor sumber daya yang sangat penting di samping sumber daya perusahaan yang lainnya.

Secanggih apa pun teknologi yang ada dan digunakan oleh suatu perusahaan, sebesar apa pun modal usaha yang diperlukan, namun keberadaan SDM tetap menjadi prioritas utama, karena SDM merupakan pelaku dan faktor penentu lancarnya sebuah organisasi.

Perusahaan yang menganggap SDM sebagai salah satu asset perusahaan, tentu hal ini mendorong para manajer perusahaan untuk berusaha semaksimal mungkin mengelola SDM. Hal ini dimaksudkan agar SDM  yang ada mampu menghasilkan output semaksimal mungkin dalam usaha mencapai tujuan perusahaan.

 Upaya manajer perusahaan dalam mengelola SDM tentu dimulai dengan suatu perencanaan yang matang hingga mencapai tahap pengembangan SDM, dengan harapan SDM yang ada dapat berkontribusi sebesar-besarnya bagi perusahaan. Pengukuran tingkat kontribusi SDM pada perusahaan dapat dilihat dan dievaluasi melalui penilaian kinerja karyawan secara periodik tertentu dan terus menerus, sehingga penilaian tersebut efektif sebagai alat ukur.

 Hasil penilaian kinerja karyawan pada umumnya berbeda-beda antara karyawan yang satu dengan yang lainnya. Hal tersebut tentu dipengaruhi oleh beberapa faktor, sehingga manajer perusahaan harus benar-benar mampu dalam mengidentifikasi dan memahami faktor-faktor tersebut yang kemudian dilanjutkan dengan tindakan penanganan yang efektif pula.

Secara umum banyak sekali faktor-faktor yang dapat dan sering mempengaruhi kinerja karyawan, dan salah satu contohnya adalah faktor kepuasn kerja. Mengapa demikian? Kepuasan kerja merupakan sesuatu hal  yang diharapkan oleh setiap karyawan di perusahaan. Biasanya, karyawan yang merasa puas dapat mengarahkan karyawan pada kondisi diri yang positif seperti merasa semangat dan giat dalam bekerja.

 Mengingat pentingnya kepuasan kerja karyawan, maka kepuasan kerja merupakan salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian pimpinan perusahaan. Dalam kenyataannya banyak pimpinan perusahaan belum sepenuhnya menyadari pengaruh dan arti penting dari kepuasan kerja. Bahkan perusahaan masih menganggap SDM  sebagai biaya (cost) bagi perusahaan, sehingga pengelolaan SDM yang ada belum maksimal dilakukan.

         Pengelolaan SDM yang kurang maksimal dapat mengakibatkan tingkat kepuasan kerja juga kurang maksimal. Jika kepuasan kerja tidak maksimal akan berpengaruh pada pencapaian kinerja karyawan yang juga kurang maksimal. Benarkah demikian? Sejauh manakah pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan?
           
 Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, selanjutnya dalam artikel ini akan dipaparkan secara rinci tentang definisi kepuasan kerja, faktor-faktor dalam kepuasan kerja, dimensi pengukuran kepuasan kerja, dan pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan.

             Paparan materi dalam artikel ini penulis mengacu pada teori yang disampaikan oleh beberapa ahli dan diperkuat oleh hasil penelitian oleh beberapa peneliti tentang pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan.

A. DEFINISI KEPUASAN KERJA

          Menurut Luthans (2006:243), kepuasan kerja adalah keadaan emosi yang senang atau emosi positif yang berasal dari penilaian pekerjaan atau pengalaman kerja seseorang. Kepuasan kerja adalah hasil dari persepsi karyawan mengenai seberapa baik pekerjaan mereka memberikan hal yang dinilai penting.

         Handoko (1992) dalam Sutrisno (2009:79), menyebutkan kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi para karyawan dalam memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Ini tampak dalam sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerja.

             Pendapat Tiffin (1958) dalam Sutrisno (2009:81), kepuasan kerja berhubungan erat dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaannya sendiri, situasi kerja, kerja sama antara pimpinan dengan sesama karyawan.
       
             Rivai dan Mulyadi (2010:246), menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah penilaian dari pekerja tentang seberapa jauh pekerjaannya secara keseluruhan memuaskan kebutuhannya.
            
            As’ad (2004), mendefinisikan kepuasan kerja sebagai perasaan seseorang terhadap pekerjaan. Kepuasan kerja adalah suatu perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari sebuah evaluasi karakteristiknya (Robbins, 2008) 
             
          Steve M. Jex (2002:131) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai “tingkat afeksi positif seorang pekerja terhadap pekerjaan dan situasi pekerjaan.” Bagi Jex, kepuasan kerja melulu berkaitan dengan sikap pekerja atas pekerjaannya. Sikap tersebut berlangsung dalam aspek kognitif dan perilaku. Aspek kognitif kepuasan kerja adalah kepercayaan pekerja tentang pekerjaan dan situasi pekerjaan: Bahwa pekerja yakin bahwa pekerjaannya menarik, merangsang, membosankan atau menuntut. Aspek perilaku pekerjaan adalah kecenderungan perilaku  pekerja atas pekerjaannya yang ditunjukkan lewat pekerjaan yang dilakukan, terus bertahan di posisinya, atau bekerja secara teratur dan disiplin.

        Barbara A. Fritzsche and Tiffany J. Parrish (2005:180) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai “... variabel afektif yang merupakan hasil dari pengalaman kerja seseorang.” Fritsche and Parrish juga mengutip Locke (1976) yang menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah “... keadaan emosional yang positif dan menyenangkan yang dihasilkan dari penghargaan atas pekerjaan atau pengalaman kerja seseorang.”

       Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka kepuasan kerja merupakan suatu kondisi emosional yang mengarahkan pada sikap positif seseorang dalam menilai pekerjaannya dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerja.

B. FAKTOR-FAKTOR DALAM KEPUASAN KERJA

          Kepuasan setiap individu karyawan memiliki tingkatan yang berbeda, karena faktor-faktor yang mempengaruhi pun juga dapat berbeda–beda. Misalnya ada individu yang merasa puas karena besaran gaji, namun ada individu lain merasa puas karena faktor lingkungan kerjanya.

         Menurut Kreitner dan Kinicki (2005), menyebutkan bahwa kepuasan kerja sebagai efektivitas atau respons emosional terhadap berbagai aspek pekerjaan. Definisi ini mengandung pengertian bahwa kepuasan kerja bukanlah suatu konsep tunggal, sebaliknya seseorang dapat relatif puas dengan suatu aspek dari pekerjaannya dan tidak puas dengan salah satu atau beberapa aspek lainnya.

           Faktor yang memberikan kepuasan kerja menurut Blum (1956), dalam (As’ad, 2004: 114), adalah sebagai berikut:
1.  Faktor individual, meliputi umur, kesehatan, watak dan harapan;
2. Faktor sosial, meliputi hubungan kekeluargaan, pandangan masyarakat, kesempatan berkreasi, kegiatan perserikatan pekerja, kebebasan berpolitik, dan hubungan kemasyarakatan;

3. Faktor utama dalam pekerjaan, meliputi upah, pengawasan, ketentraman kerja, kondisi kerja, dan kesempatan untuk maju.

       Selain itu juga penghargaan terhadap kecakapan, hubungan sosial di dalam pekerjaan, ketepatan dalam menyelesaikan konflik antar manusia, perasaan diperlakukan adil baik yang menyangkut pribadi maupun tugas.
     
     Selanjutnya pendapat  dari Gilmer (1966) dalam As’ad (2004:114-115) dan Sutrisno (2009:82-84) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja sebagai berikut:

1. Kesempatan untuk maju.
Dalam hal ini ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan peningkatan kemampuan selama kerja;

2. Keamanan kerja.
Faktor ini sering disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik bagi karyawan pria maupun wanita. Keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan karyawan selama kerja;

3. Gaji.
Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan jarang orang mengekspresikan kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang diperolehnya;

4. Perusahaan dan manajemen.
Perusahaan dan manajemen yang baik adalah yang mampu memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil. Faktor ini yang menentukan kepuasan kerja karyawan;

5. Pengawasan (Supervise).
Bagi karyawan, supervisor dianggap sebagai figur ayah dan sekaligus atasannya. Supervisi yang buruk dapat berakibat absensi dan turn over;

6. Faktor Instrinsik dari Pekerjaan.
Atribut yang ada pada pekerjaan mensyaratkan ketrampilan tertentu. Sukar dan mudahnya serta kebanggaan akan tugas akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan;

7.  Kondisi kerja.
Termasuk di sini adalah kondisi tempat, ventilasi, penyinaran, kantin dan tempat parkir;

8.  Aspek sosial dalam pekerjaan.
Merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan tetapi dipandang sebagai faktor yang menunjang puas atau tidak puas dalam kerja;

9.  Komunikasi.
Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan pihak manajemen banyak dipakai alasan untuk menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak atasan untuk mau mendengar, memahami dan mengakui pendapat ataupun prestasi karyawannya sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap kerja;

10.  Fasilitas.
Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.

      Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu :
1. Faktor psikologis, merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan yang meliputi minat, ketentraman dalam bekerja, sikap terhadap kerja, bakat, dan ketrampilan.

2. Faktor sosial, merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi social baik antara sesama karyawan, maupun dengan atasannya.

3. Faktor fisik, merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik karyawan, meliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu dan waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan, suhu, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan, umur dan sebagainya.

4. Faktor finansial, merupakan faktor yang berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan karyawan yang meliputi system dan besarnya gaji, jaminan sosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan, promosi dan sebagainya (Sutrisno, 2009:86).

         Berdasarkan uraian di atas tentang faktor-faktor yang menyebabkan kepuasan kerja tiap-tiap individu atau karyawan berbeda faktor dan tingkatannya, maka selayaknya bagi manajer perusahaan sangat perlu  mempelajari dan memahami karakteristik dari masing-masing SDM yang ada dalam perusahaan. Hal ini dimaksudkan agar masing-masing individu dapat terpenuhi kebutuhan yang dapat memuaskan dirinya, sehingga para karyawan dapat bekerja dengan sebaik-baiknya.


C. TUJUAN PENGUKURAN KEPUASAN KERJA

      Seperti dalam penjelasan sebelumnya bahwa kepuasan kerja karyawan dapat dilihat dan nampak dari sikap positif karyawan. Menurut Kuswadi (2004:55-56), kepuasan kerja perlu dipantau dengan cara mengukur tingkat kepuasan kerja karyawan.

Tujuan pengukuran kepuasan kerja bagi para karyawan adalah :
1.  Mengidentifikasi kepuasan karyawan secara keseluruhan, termasuk kaitannya dengan tingkat urutan prioritasnya (urutan faktor atau atribut tolok ukur kepuasan yang dianggap penting bagi karyawan). Prioritas yang dimaksud dapat berbeda antara para karyawan dari berbagai bidang dalam organisasi yang sama dan antara organisasi yang satu dengan yang lainnya.

2.  Mengetahui persepsi setiap karyawan terhadap organisasi atau perusahaan. Sampai seberapa dekat persepsi tersebut sesuai dengan harapan mereka dan bagaimana perbandingannya dengan karyawan lain.

3.   Mengetahui atribut–atribut mana yang termasuk dalam kategori kritis (critical perfoment attributes) yang berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan karyawan. Atribut yang bersifat kritis tersebut merupakan prioritas untuk diadakannya peningkatan kepuasan karyawan.

4.  Apabila memungkinkan, perusahaan atau instansi dapat membandingkannya dengan indeks milik perusahaan atau instansi saingan atau yang lainnya.

D. DIMENSI PENGUKURAN KEPUASAN KERJA

     Dimensi pengukuran kepuasan kerja ada bermacam-macam, dan dalam artikel ini penulis mengambil satu contoh dimensi pengukuran kerja menurut Marihot T.E Hariandja.

         Dimensi pengukuran kepuasan kerja menurut Marihot T.E Hariandja (2005:290-291), menyebutkan kepuasan kerja adalah sejauh mana individu merasakan secara positif atau negatif berbagai macam factor atau dimensi dari tugas-tugas dalam pekerjaannya. Kepuasan kerja berkaitan dengan beberapa aspek, yaitu :

1. Gaji, yaitu jumlah bayaran yang diterima seseorang sebagai akibat dari pelaksanaan kerja apakah sesuai dengan kebutuhan dan dirasakan adil.

2. Pekerjaan itu sendiri, yaitu isi pekerjaan yang dilakukan seseorang apakah memiliki elemen yang memuaskan.

3. Rekan kerja, yaitu teman-teman kepada siapa seseorang senantiasa berinteraksi dalam pelaksanaan pekerjaan. Seseorang dapat merasakan rekan kerjanya sangat menyenangkan atau tidak menyenangkan.

4. Atasan, yaitu seseorang yang senantiasa memberi perintah atau petunjuk dalam pelaksanaan kerja. Cara-cara atasan dapat tidak menyenangkan bagi seseorang atau menyenangkan dan hal ini dapat mempengaruhi kepuasan kerja.

5. Promosi, yaitu kemungkinan seseorang dapat berkembang melalui kenaikan jabatan. Seseorang dapat merasakan adanya kemungkinan yang besar untuk naik jabatan atau tidak, proses kenaikan jabatan kurang terbuka atau terbuka. Ini juga dapat mempengaruhi tingkat kepuasan kerja seseorang.

6.  Lingkungan kerja, yaitu lingkungan fisik dan psikologis.


E. PENGARUH KEPUASAN KERJA TERHADAP KINERJA

          Pemenuhan kebutuhan kepuasan kerja bagi karyawan perlu mendapat perhatian dan harus dilakukan oleh manajemen perusahaan. Hal ini untuk menghindari dampak-dampak yang tidak diinginkan yang dapat merugikan karyawan yang pada akhirnya dapat merugikan perusahaan. Selain itu faktor kepuasan kerja juga dapat mempengaruhi tingkatan hasil pencapaian kinerja masing-masing individu atau karyawan.            

          Berikut ini beberapa pendapat dari para ahli yang menyatakan bahwa kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja.
Menurut Sutrisno (2009:88), dampak kepuasan dan ketidapuasan kerja adalah :
1.  Dampak terhadap produktivitas
2.  Dampak terhadap ketidakhadiran dan keluarnya tenaga kerja
3.  Dampak terhadap kesehatan.

    Menurut Umar (2004) dalam Triton (2009:164), kepuasan kerja perlu dipantau dampaknya dengan mengaitkannya pada output yang dihasilkannya, misalnya:
1.  Kepuasan kerja dengan produktivitas
2.  Kepuasan kerja dengan turn over
3.  Kepuasan kerja dengan absensi
4.  Kepuasan kerja dengan efek lainnya seperti dengan kesehatan fisik-mental, kemampuan mempelajari pekerjaan baru, dan kecelakaan kerja.

        Wexley dan Yukl dalam Waridin dan Masrukhin (2006), mengatakan kepuasan kerja sangat berkaitan erat antara sikap pegawai terhadap berbagai faktor dalam pekerjaan, antara lain situasi kerja, pengaruh sosial dalam kerja, imbalan dan kepemimpinan serta faktor lain. Kepuasan kerja merupakan sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya.

         Ivancevich (2008:12), menyebutkan bahwa kepuasan karyawan tidak secara otomatis dapat meningkatkan produktivitas, walaupun ketidakpuasan karyawan cenderung menurunkan produktivitas, lebih sering mangkir dan menghasilkan kualitas lebih rendah dari pada karyawan yang puas.

Selain berdasarkan beberapa teori di atas, berikut hasil penelitian dari beberapa peneliti tentang pengaruh kepuasan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Noviani Cipta Dewi dan Edy Mulyantomo (2013), Mulyanto dan Sutapa Hardaya (2009),  dan A.Soegihartono (2012), oleh Duserick (2007), Bartram and Gian (2007), Stephen, dkk (2007), Zeffane, et.all (2008), Nancy and Eleana (2009), Lolita, et.all (2009), Yang, et.all (2010), Singh (2013), Yang, et.all (2014), diperoleh hasil tentang arti pentingnya kepuasan kerja dan telah membuktikan bahwa kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan.   

Berdasarkan teori dari beberapa ahli dan hasil penelitian di atas tentang adanya pengaruh kepuasan terhadap kinerja karyawan, maka seyogyanya hal ini mendorong para manajer perusahaan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengidentifikasi kemungkinan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja bagi karyawan. Hal ini dimaksudkan agar kinerja karyawan dapat ditingkatkan dalam usaha pencapaian tujuan perusahaan.

        Demikian artikel ini yang membahas tentang pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan. Penulis berharap artikel ini dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya bagi praktisi manajer perusahaan agar memperhatikan faktor kepuasan kepuasan kerja karyawan agar kinerja karyawan tercapai secara maksimal. Selain itu penulis juga berharap artikel ini dapat menjadi rujukan para praktisi akademisi dan para mahasiswa pada bidang ilmu yang relevan.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2013. Tehnikkepemimpinan.Http://tehnikkepemimpinan.blogspot.com/2013/10/teori-kepuasan-kerja.html.

As'ad. 2004. Psikologi Industri. Yogyakarta : Liberti

Bartram, Timothy and Gian Casimir. 2007. The Relationship Between Ladership and Follower In-Role Performance and Satisfaction with The Leader: The mediating Effects of Empowerment and Trust in The Leader. Leadership&Organization Development Journal. Vol.28, No.1.pp: 4-19.

Duserick, Frank.2007. The Impact of Effective Strategic Planning and Leadership on Employee Satisfaction. Competition Forum. Vol.5, No.1.pp:243-252

Hariandja, Marihot T. E. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia Pengadaan, pengembangan, Pengkompensasian, dan Peningkaan produktivitas Pegawai. Cetakan Ketiga. Jakarta : PT. Grasindo.

Ivancevich, John, M, Konopaske, & Matteson. 2008. Perilaku dan Manajemen Organisasi. Jakarta : Erlangga.

Kuswadi. 2004. Cara Mengukur Kepuasan Kerja Karyawan. Jakarta: PT ElexMedia Komputindo

Kreitner dan Kinicki. 2005. Perilaku Organisasi. Jakarta:Salemba Empat.

Lolita, Mancheno-Smoak, et.all. 2009. The Individual Cultural Values and Job Satisfaction of the Transformational Leader. Organization Development Journal. Vol. 27, No.3, pp:9-21.

Luthans, Fred.2006. Perilaku Organisasi. Edisi Sepuluh. Yogyakarta: Andi Publisher 

Masrukin dan Waridin. 2006. Pengaruh Motivasi Kerja, Kepuasan Kerja, Budaya Organisasi, dan Kepemimpinan Terhadap Kinerja Pegawai. Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Vol. 7, No.2.

Papalexandris, Nancy and Eleanna Galanaki. 2009. Leadership's Impact on Employee Eengagement: Differences Among Entrepreneurs and Professional CEOs. Leadership&Organization Development Journal. Vol.30, No.4, pp:365-385.

Rivai, Veitzal dan Deddy Mulyadi. 2010. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Edisi ketiga. Jakarta: Rajawali Pers.

Stephen,Betts C and Santoro, Michael D. 2007. Integrating Leadership Theories and Team Research: A Conceptual Framework Based on Level of Analysis and Type of Control.  Journal of Organizational Culture,Communication and Conflict,  Vol. 11, No.1, pp:1-17.

Sutrisno, Edy.2009. Manajemen Sumber Daya Manusia. Cetakan I. Jakarta: PT. Kencana Media Group.

Triton. 2009. Mengelola Sumber Daya Manusia. Cetakan I. Magelang: ORYZA.

Yang, Li-Ren, et. all. 2010. Relationships among project manager’s leadership style, team interaction and project performance in the Taiwanese server industry. Research Paper. Qual Quant, Vol. 46, pp: 207–219. Published online.

Yang, Feng-Hua, et. All. 2014. Examining The Mechanisme Linking Behavioral Integrity and Affective Commitment; The Mediating Role of Charismatic Leadership. International Journal of Organizational Innovation (Online), Vol.6, No.3.pp:153-173.

Zeffane, Rachid and Rashid Al Mehairi. 2008. Exploring The Differential Impact of Job Satisfaction on Employee Attendance and Conduct: The Case of a Utility Company in the United Arab Emirates. Journal of Employee Relations, Vol.30, No.3, pp: 237-250.